Senin, 25 November 2013

IBADAH


A. Definisi Ibadah
Ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut syara’ (terminologi), ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain adalah:

1. Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para Rasul-Nya.

2. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.

3. Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. Yang ketiga ini adalah definisi yang paling lengkap.

Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang), dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Sedangkan tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati adalah ibadah lisaniyah qalbiyah (lisan dan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan dan badan.

Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” [Adz-Dzaariyaat: 56-58]

Allah Azza wa Jalla memberitahukan bahwa hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Dan Allah Mahakaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkan-Nya, karena ketergantungan mereka kepada Allah, maka barangsiapa yang menolak beribadah kepada Allah, ia adalah sombong. Siapa yang beribadah kepada-Nya tetapi dengan selain apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah). Dan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mukmin muwahhid (yang mengesakan Allah).

B. Pilar-Pilar Ubudiyyah Yang Benar
Sesungguhnya ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar pokok, yaitu: hubb (cinta), khauf (takut), raja’ (harapan).

Rasa cinta harus disertai dengan rasa rendah diri, sedangkan khauf harus dibarengi dengan raja’. Dalam setiap ibadah harus terkumpul unsur-unsur ini. Allah berfirman tentang sifat hamba-hamba-Nya yang mukmin:

يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ

“Dia mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” [Al-Maa-idah: 54]

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ

“Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cinta-nya kepada Allah.” [Al-Baqarah: 165]

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” [Al-Anbiya’: 90]

Sebagian Salaf berkata [2], “Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa cinta saja, maka ia adalah zindiq [3], siapa yang beribadah kepada-Nya dengan raja’ saja, maka ia adalah murji’[4]. Dan siapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan khauf, maka ia adalah haruriy [5]. Barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan hubb, khauf, dan raja’, maka ia adalah mukmin muwahhid.”



Dasar Hukum dan Hukum Ibadah



I. Dasar Hukum Ibadah

          Dasar hukum atau dalil perintah pelaksanaan ibadah adalah nash al-Quran. Di  dalam  al-Qur'an  banyak  sekali  ayat-ayat  yang menyatakan  perintah kepada hamba  Allah  untuk  melaksanakan  ibadah.  Ibadah  dalam  Islam sebenarnya bukan  bertujuan  supaya Tuhan  disembah  dalam  arti  penyembahan  yang terdapat dalam agama-agama primitif, melainkan sebagai perwujudan rasa syukur atas  nikmat  yang  telah  dikaruniakan  Allah  atas  hamba-hamba-Nya.

Adapun  ayat-ayat  yang  menyatakan  perintah  untuk  melaksanakan  ibadah

tersebut di antaranya sebagai berikut:

1. Surat Yasin ayat 60:

“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”. (Q.S. Yasin: 60)



2. Surat adz-Dzariyat ayat 56:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (Q.S.  adz-Dzariyat: 56)



Dari  ayat  di  atas,  jelaslah  bahwa  Allah menciptakan  jin  dan manusia semata-mata untuk menyembah-Nya, walaupun sebenarnya Allah tidak berhajat untuk disembah ataupun dipuja oleh manusia. Allah adalah Maha Sempurna dan tidak berhajat kepada apapun.



3. Surat an-Nahl ayat 36:

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu". Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”. (Q.S. an-Nahl: 36)



4. Firman Allah dalam surat al-Anbiya ayat 25 :

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (Q.S. al-Anbiya: 25)



5. Firman Allah dalam surat al-Anbiya ayat 92i:

“Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (Q.S. al-Anbiya: 92)



          Dari  ayat-ayat  yang  telah  dikemukakan  di  atas,  tampak  jelas  bahwa Allah  memerintahkan  hamba-Nya  untuk  senantiasa  beribadah  kepada-Nya. Diutusnya para Rasul untuk menyampaikan  syari'at yang  telah ditetapkan olehm Allah  kepada  umat  manusia  adalah  supaya  manusia  mengetahui kewajiban-kewajiban  apa  saja  yang  harus  dilaksanakannya  dalam  rangka  mensyukuri nikmat yang telah Allah anugerahkan kepadanya.

Hakikat Ibadah

Beribadah kepada Allah, berarti  memusatkan penyembahan kepada-Nya. Itu artinya tidak ada objek sembahan dan pengabdian diri melainkan Allah SWT. Pengabdian berarti penyerahan mutlak dan kepatuhan sepenuhnya secara lahir dan batin oleh seorang hamba (makhluk) kepada Tuhannya (Khaliq). Hal itu dilakukan dengan kesadaran, baik sebagai individu di tengah-tengah masyarakat luas maupun sebagai bagian kolekif (bersama-sama) masyarakat dalam hubungannya dengan Allah atau dengan sesama manusia dan alam lingkungannya. Dengan kata lain, semua kegiatan manusia, baik yang segi ‘ubudiyah maupun mu’amalah, dikerjakan dalam rangka penyembahan kepada Allah dan mencari keridhaan-Nya.

Selain itu, ibadah adalah wujud cinta dan bentuk kepatuhan hamba kepada  khaliqnya dan sebagai implementasi rasa syukur kepada Allah. Ibadah  membawa hamba kepada ketenangan hidup (pikir, batin dan memberi kepuasan dari dahaga spiritual dengan jalan yang benar). Sebagai sarana atau solusi untuk memuliakan diri sendiri (derajad takwa) serta sarana dalam upaya mencari cinta Allah dan terlepas dari murka-Nya. Sehingga menjaga manusia dari kemungkinan terjerumus ke neraka.

Sesuai dengan firman Allah QS. Adz-Dzariyat, 51: 56 sebagaimana termaktub pada dasar hukum di atas, “Dan tidak aku ciptakan  jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”, ibadah merupakan kewajiban bagi setiap manusia. meski sebagai kewajiban, bukan berarti hal itu sebagai bentuk kebutuhan Tuhan, tetapi untuk kebutuhan manusia itu sendiri.

Qur’an surat Adz-Dzariyat tersebut memberikan pengertian bahwa ibadah merupakan penghambaan diri manusia sebagai makhluk dan Allah sebagai Khaliqnya. Apa yang dilakukan oleh manusia semata – mata adalah wujud taatnya kepada Allah yang hal itu berarti ibadah. Karena ibadah, sebagaimana pendapat Ibnu Taimiyah, adalah setiap aktifitas baik lahir atau batin yang dilakukan dengan maksud mencari ridha Allah.



Hikmah Ibadah
Ibadah ialah taqurrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan mentaati segala perintah-Nya dan menjahui larangan-Nya dan mengamalkan yang diizinkan.
Ibadah disini ada dua macam, ibadah umum dan ibadah khusus.
a. Ibadah yang umum ialah segala amal yang diizinkan Allah.
b. Ibadah yang khusus ialah ibadah yang telah ditetapkan Allah perinciannya, tingkah laku dan tata caranya yang tertentu. (biasa disebut ibadah mahdhoh)
Jadi hidup yang beribadah ialah hidup untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan melaksanakan ketentuan-ketentuan yang menjadi peraturan-Nya guna mendapatkan keridlaan-Nya. Dalam beribadah membersihkan jiwa kearah terbentuknya pribadi yang mutaqin, dengan ibadah yang tekun dan menjauhkan ciri dari nafsu buruk, sehingga terpancar kepribadian yang shoheh yang menhadirkan kedamaian dan kemanfaatan bagi diri dan sesamanya,
Amal perbuatan yang ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah disebut ibadah, sedangkan pokok-pokok ibadah yang wajib dilakukan oleh setiap muslim itu ada lima perkara. Itulah yang disebut rukun islam yang lima. Nabi bersabda :
بُنِيَ اْلإِسْلاَ مُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَدَةَ اَنْ لاَ اِلَّهَ اِلاَّ اللهِ وَاَنَّ مُحَمَّدً ارَسُوْلُ اللهِ وَاَقَامِ الصَّلاَةِ وَاِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ وَحِجُ البَيْتِ لِمَنِ سْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلاً (رواه البخار ومسلم
)
Artinya : Islam itu didirikan atas lima perkara : kesaksian bahwa tak ada Tuhan melainkan Allah, dan bahwasannya Muhammad itu utusan Allah, mendirikan Shalat, membayar zakat, puasa romadlon dan melaksanakan haji ke Baitullah bila kuasa. (HR. Bukhori d
an Muslim)

Sabtu, 23 November 2013

CERMIN....

BERCERMIN DIRI


Sahabatku,

Dalam keseharian kehidupan ini, kita seringkali melakukan aktivitas bercermin. Tidak pernah bosan barang sekalipun padahal wajah yang kita tatap, itu-itu juga, aneh bukan?! Bahkan hampir pada setiap kesempatan yang memungkinkan, kita selalu menyempatkan diri untuk bercermin. Mengapa demikian? Sebabnya, kurang lebih karena kita ingin selalu berpenampilan baik, bahkan sempurna. Kita sangat tidak ingin berpenampilan mengecewakan, apalagi kusut dan acak-acakan tak karuan.

Hanya saja, jangan sampai terlena dan tertipu oleh topeng sendiri, sehingga kita tidak mengenal diri yang sebenarnya, terkecoh oleh penampilan luar. Oleh karena itu marilah kita jadikan saat bercermin tidak hanya topeng yang kita amat-amati, tapi yang terpenting adalah bagaimana isi dari topeng yang kita pakai ini. Yaitu diri kita sendiri.

Sahabatku,

Mulailah amati wajah kita seraya bertanya, "Apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya bersinar indah di surga sana ataukah wajah ini yang akan hangus legam terbakar dalam bara jahannam?"

Lalu tatap mata kita, seraya bertanya, "Apakah mata ini  yang kelak dapat menatap penuh kelezatan dan kerinduan, menatap Allah yang Mahaagung, menatap keindahan surga, menatap Rasulullah, menatap para Nabi, menatap kekasih-kekasih Allah kelak? Ataukah mata ini yang akan terbeliak, melotot, menganga, terburai, meleleh ditusuk baja membara? Akankah mata terlibat maksiat ini akan menyelamatkan? Wahai mata apa gerangan yang kau tatap selama ini?"

Lalu tataplah mulut ini, "Apakah mulut ini yang di akhir hayat nanti dapat menyebut kalimat thayibah, 'laaillaahaillallaah', ataukah akan menjadi mulut berbusa yang akan menjulur dan di akhirat akan memakan buah zakum yang getir menghanguskan dan menghancurkan setiap usus serta menjadi peminum lahar dan nanah? Saking terlalu banyaknya dusta, ghibah, dan fitnah serta orang yang terluka dengan mulut kita ini!"

"Wahai mulut apa gerangan yang kau ucapkan? Betapa banyak dusta yang engkau ucapkan. Betapa banyak hati-hati yang remuk dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam? Betapa banyak kata-kata yang manis semanis madu palsu yang engkau ucapkan untuk menipu beberapa orang? Betapa jarangnya engkau jujur? Betapa jarangnya engkau menyebut nama Allah dengan tulus? Betapa jarangnya engkau syahdu memohon agar Allah mengampunimu?"

Sahabatku,

Tataplah diri kita dan tanyalah, "Hai kamu ini anak shaleh atau anak durjana? Apa saja yang telah kamu peras dari orang tuamu selama ini? Dan apa yang telah engkau berikan? Selain menyakiti, membebani, dan menyusahkannya?! Tidak tahukah engkau betapa sesungguhnya engkau adalah makhluk tiada tahu balas budi!"
                   
"Wahai tubuh, apakah engkau yang kelak akan penuh cahaya, bersinar, bersukacita, bercengkrama di surga sana? Atau tubuh yang akan tercabik-cabik hancur mendidih di dalam lahar membara jahannam tanpa ampun dengan derita tiada akhir?"

"Wahai tubuh, berapa banyak maksiat yang engkau lakukan? Berapa banyak orang-orang yang engkau zhalimi dengan tubuhmu? Berapa banyak hamba-hamba Allah yang lemah yang engkau tindas dengan kekuatanmu? Berapa banyak perindu pertolonganmu yang engkau acuhkan tanpa peduli padahal engkau mampu? Berapa pula hak-hak yang engkau rampas?"

"Wahai tubuh, seperti apa gerangan isi hatimu? Apakah tubuhmu sebagus kata-katamu atau malah sekelam daki-daki yang melekat di tubuhmu? Apakah hatimu segagah ototmu atau selemah daun-daun yang mudah rontok? Apakah hatimu seindah penampilanmu atau malah sebusuk kotoran-kotoranmu?"


Sahabatku,

Ingatlah amal-amal kita, "Hai tubuh apakah kau ini makhluk mulia atau menjijikkan, berapa banyak aib-aib nista yang engkau sembunyikan dibalik penampilanmu ini? Apakah engkau ini dermawan atau si pelit yang menyebalkan? Berapa banyak uang yang engkau nafkahkan dan bandingkan dengan yang engkau gunakan untuk selera rendah hawa nafsumu"

"Apakah engkau ini shaleh atau shalehah seperti yang engkau tampakkan? Khusyu-kah shalatmu, zikirmu, do’amu, ...ikhlaskah engkau lakukan semua itu? Jujurlah hai tubuh yang malang! Ataukah menjadi makhluk riya tukang pamer!"

Sungguh  betapa beda antara yang nampak di cermin dengan apa yang tersembunyi. Betapa aku telah tertipu oleh topeng? Betapa yang kulihat selama ini hanyalah topeng, hanyalah seonggok sampah busuk yang terbungkus topeng-topeng duniawi!

Sahabat-sahabat sekalian,

Sesunguhnya saat bercermin adalah saat yang tepat agar kita dapat mengenal dan menangisi diri ini.***

 

Sabtu, 16 November 2013

Ibu


Ibu enkau yang melahirkanku
Dan mengurusku hingga dewasa
Kasih sayangmu
Ta'kan pernah kulupa  

Ibu engkau sangat mulia
Karena pekerjaanmu didasari dengan hati
Semoga ibu masuk surga
dan kekal abadi

Surga ditelapak kaki Ibu
Karna Allah telah menjanjikan
Sayangilah dan hormatilah Ibumu
Niscaya kau akan mendapat ganjaran


Ibu...


engkau menangis karenaku

engkau sedih karena ku
engkau menderita karenaku
engkau kurus karenaku
engkau korbankan segalanya untukku
 

Ibu maafkan anakmu ini yang selalu membangkang dan selalu menyakiti perasaanmu, terima kasih atas jasa yg kau berikan Ibu,, Terima kasih atas air mata ketulusan & senyuman dibalik kelelahan..
Aku berhutang pada Ibu, Sebuah hutang yang aku tahu tak akan pernah bisa kubayar selama hidupku.
Seorang Ibu yang selalu ingin anaknya bahagia, karena mereka segalanya.



Ibu...


hanya do'a yang bisa kupersembahkan untukmu,,

karena jasamu,,

tiada terbalas,,


Hanya tangisku sebagai saksi
atas rasa cintaku  padamu ibu,,
 

Jumat, 15 November 2013

Sesalku....

      Hati kecil berbisik  untuk kembali padanya seribu kata menggoda seribu sesal didepn mata seperti menjelma, waktu aku tertawa kala memberimu dosa
     Rasa sesal di dasar hati diam tak mau pergi, haruskah aku lari dari kenyataan ini.
Pernahku mencoba tuk sembunyi namun senyumu tetap mengikuti.....


 

Kamis, 14 November 2013

Aku

Aku adalah aku. Aku bukan dia,kalian mau anggap aku seperti apa terserah..yang penting Aku itiqamah.
Aku tak mau mendengar ocehan orang tentang keburukanku, biar saja orang mau bilang apa karna aku percaya tidak ada orang yang sempurna. Setiap orang sama mempunyai kekurangan dan kelebihan..
Aku coba jadikan kekuranganku sebagai kelebihanku. Walaupun sulit tapi ku ingin menyederhanakan kesulitanku sebagai kemudahanku. Karna Allah memberikan cobaan kepada mahluknya dengan batas kemampuannya.
Kata orang aku Jelek tapi mamah bilang aku Ganteng kaya skoteng. Tapi aku bersyukur karna tidak mungkin ada orang ganteng bila tidak ada orang jelek. Aku bersyukur dilahirkan dari keluarga sederhana yang serba kekurangan. karna itu aku bisa belajar menghargai arti kehidupan.

Rabu, 13 November 2013

 Sampai kapan....?


Sampai kapan diriku meumeuyeum rasa ini oh neneng. Aku takut hatiku kamalangkem jika terlalu lama, sejak diriku mengenal dirimu ada rasa toweWewww....dalam hati ini seakan ada aliran tinggeleser mengalir bagaikan dahdir yang keluar dari biwir oh neneng. Meski kamu logay dan kata orng kamu lebay tapi bagiku kamu tetap seperti bidadari yang yang turun dari busway. Ehh,,mmmm,,! Oh Eneng betapa geulisnya dirimu matamu yang cureuleuk bikin hatiku gegebegan. Delekan matamu membuat hatiku seseblakan,telah lama aku peuyeum rasa ini kepadamu. Tapi sampai sekarang aku belum Wani untuk mengedalkannya, Eehh,,, Oh Eneng andai saja kau tahu sebenarnya aku telah tigeuleudug hate kepadamu. Ingin rasanya aku gabrug dirimu. Tapi apa daya tu'urku selalu Nyorodcod,, setiap diriku memelong wajahmu..eEhh,,hh... Waktu kita kenalan dulu setelah sasalaman tanganku langsung lilinieun, badanku mendegdeg, hidugku menangis mukaku memerah saking malunya aku. Oh Eneng aku kataji padamu......!



Selasa, 12 November 2013

 Menghargai Diri


  Kalau tidak dari sekarang mau kapan lagi. Rubahlah diri kita dari sekarang kalau bukan kita siapa lagi yang akan merubah coba, karna Allah tidak akan merubah nasib seseorang jika bukan orang itu sendiri yang mau merubahnya. Mulailah dari yang hal kecil atau sederhana dulu. Contoh: kecilnya buanglah sampah pada tempatnya, itulah ciri menghargai diri sendiri, jika kita bisa menghargai diri sendiri pasti kita bisa menghargai orang lain. Jika kita sudah mampu menghargai orang lain,insyaAllah orang lainpun akan menghargai kita,aura dalam diri akan terpancar jika qalbu kita bersih. contoh kecil'solatlah tepat pada waktunya,selain untuk melatih mnjadi kebiasaan,hikmak yg akan qt dapat jauh lebih dari sebelumnya,eh satu lgi biasakanlah shalat duha,krna dgn salat duha, kita akan dapat keajaiban ok.....

   Janganlah merasa sulit untuk melakkan sesuatu sebelum kita mencobanya..
Arahkan otak kanan kita mulai sekarang,,,otak kanan akan merubah kehidupan kita mnjadi lebih hidup,sesuatu hal yang mustahil menurut manusia, itu jauh lebih mudah bagi Allah. Yang pasti keyakinan modal utama yakin ga' kita bisa sukses.....? "Yuk kita niatkan dari sekarang, untuk merubah hidup ini menjadi hidup yang jauh lebih baik dari sebelumnya....!